Artwork Showcase

Terinspirasi dari banyaknya situs candi yang ada di Yogyakarta, serta mencoba menghubungkan kembali material kaca yang seakan terlupakan dari masa lalu Nusantara. (1st floor)

Bebasan gudeg, legi-gurih pengalamane; bagaikan gudeg, ada manis dan gurih hidup di jogja dengan segala pengalamannya. Manis geplak esemme; senyumnya manis bagaikan geplak
Rukun koyo jadah tempe: rukun, bersama bagaikan jadah dan tempe. Lethek bakmine resik nalare: meskipun bakminya “lethek” tapi akal pikirnya bersih. Maniko warno koyo bakpia uripe; hidupnya bermacam-macam isinya bagaikan bakpia. (2nd Floor)

(3rd Floor)

Yogyakarta, kota yang penuh dengan kenangan manis dari pantainha sampai gunung merapi semua memiliki ceritanya masing-masing. Keramah tamahan warga Jogja juga menambah keindahan dari Kota Jogja itu sendiri. Kenangan manis itu akan selalu ada, yang selalu membuat kita ingin selalu kembali ke Yogyakarta. (5th Floor)

Yogyakarta menjadi kota “berlabuh” para wisatawan terbesar kedua di Indonesia. Memiliki 3 area yaitu Selatan, Pusat dan Utara yang akan menjadi bagian dari karya. Melalui tema PORT yang berarti pelabuhan, mengerucutkan karya ini menjadi 3 sarana transportasi yang ada di Jogja, yaitu jalur laut, darat, dan udara. (6th Floor)

Tradisi yang erat kaitannya dengan budaya Jawa yang selalu tolong menolong dalam keadaan apapun. Tak membeda-bedakan ras, suku, ataupun agama untuk guyub rukun, karena kita semua sama. (7th Floor)

      (8th Floor)

Karya ini dikemas dengan meracik nilai tradisi, adat, dan corak kebudayaan Jogja. Selain menekankan estetika yang dikemas dalam ilustrasi, karya ini juga berfungsi untuk mempererat hubungan PORTA dengan kebudayaan Jogja serta unsur nilai masyarakat Jogja.Warna earth-tone menggambarkan Jogja yang merupakan kota yang lembah manah, andhap asor, dan memberikan ketenangan. Kaya ini memberi harapan, lebih mendekatkan jatidiri Jogja dengan PORTA beserta visinya. (9th Floor)

Yogyakarta adalah tempat yang dapat menampung keberagaman, begitu juga dengan alat transportasinya. Kendaraan tradisional dan modern dapat saling berjajar. Karya ini menampilkan berbagai macam kendaraan yang bernuansa tradisi dan klasik. Ada yang masih beroperasi hingga sekarang ada juga yang tidak. Ada yang bergerak dengan tenaga manusia, tenaga hewan dan tenaga mesin. Keseluruhan mempunyai bentuk yang sangat ikonik dan memorable. Perwujudan karya yang menggunakan bentuk relief adalah sebuah upaya untuk menandakan bahwa kendaraan ini merupakan bagian dari jejak budaya yang “pernah”, ada di Jogja yang layak dikenang dari generasi ke generasi. Seperti pahatan batu pada dinding – dinding candi yang tak akan pudar tergerus zaman. (10th Floor)

 

For More Information: 0812-1501-2113

See also more Packages

Birthday Package

book now discover

The Port of Love

book now discover

Meeting Package

book now discover

Promotion

discover

See also more Packages

Birthday Package

book now discover

The Port of Love

book now discover

Promotion

discover

Meeting Package

book now discover